Jumat, 26 Maret 2010

Peran Mahasiswa Dari Kacamata Al-Qur’an

Peran Mahasiswa
Dari Kacamata Al-Qur’an

Peran Strategis Mahasiswa. Sebagai bagian dari pemuda, memiliki karakter positif antara lain idealis dan energik. Idealis berarti mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi dalam struktur kekuasaan negara. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik tanpa adanya resistensi yang terlalu besar. Sedangkan energik berarti pemuda siap sedia melakukan “kewajiban” yang dibebankan oleh suatu ideologi manakala dia telah meyakini akan kebenaran ideologi itu.
Dalam perspektif al-Quran mahasiswa memiliki tiga peran strategis. Pertama, sebagai generasi Penerus, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (Q.S Ath-Tur:21), yang dimaksud dari ulasan ayat tersebut yaitu Negara yang ada saat ini adalah tidak lepas dari perjuangan Revolusioner kita terdahulu dan inilah kewajiban kita sebagai generasi muda yang mempunyai kesadaran untuk meneruskan nilai-nilai kebijaksanaan yang ada pada suatu Masyarakat (Ummat) untuk jalannya suatu perjuangan dan janji Allah Pada Ummatnya siapa yang mampu untuk melakukan hal yang demikian, Allah akan meninggikan Derajat kita layaknya derajat yang telah diberikan pada para pejuang kita terdahulu.
Kedua, sebagai generasi Pengganti, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai mereka dan merekapun mencintaiNya (Q.S Al-Maidah:54), dari paparan ayat diatas, bahwasanya bukan sekedar Makhluk yang keluar dari suatu keyakinan atau agamanya saja, akan tetapi agama disitu juga dimaksudkan untuk jiwa-jiwa yang sadar akan tanggungjawab, akan tetapi menafikan hakekat dari keberadaan dirinya dimuka bumi atau tanggungjawab yang dimilikinya dengan berbalik arah pada suatu jalan yang hanya memberikan suatu kemudhorotan bagi kaum disekelilingnya, selain itu yang dimaksudkan dengan kata mengganti itu sendiri memiliki makna yaitu menggantikan kaum yang memang sudah tidak patut untuk dipertahankan dan tidak produktif lagi dalam proses kehidupan.
Ketiga, sebagai generasi Pembaharu “Sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku. Niscaya aku akan menunjukkan jalan yang lurus (Q.S Maryam:42), yang dimaksudkan pada ayat tersebut adalah suatu himbauan bahwasanya setiap insan dimuka bumi pada hakekatnya telah diberikan suatu bekal ilmu pengetahuan, akan tetapi dengan apa yang telah dimilikinya bukan berarti manusia akan berhenti pada satu pengetahuan saja, karena ilmu yang telah dimilikinya hanya sebagian ilmu yang ada dimuka bumi ini. Oleh sebab itu, manusia dianjurkan untuk terus mencari dan memperdalam pengetahuannya. Selain itu yang dimaksudkan dari pembaharu disini yaitu manusia yang memiliki ilmu hendaknya tidak lantas berbangga hati dengan ilmu yang sudah ada, dan menjadikan ilmu yang dimiliki itu memiliki peran untuk mampu memberikan perbaikan dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum. Itulah peran strategis mahasiswa yang seharusnya mampu untuk diberdayakan sehingga peran mahasiswa menjadi produktif dan lebih progresif dalam gerak sebagai Agend Of Change.

By: IMMawati Rizqah Al-Ghozali
Selengkapnya...

‘Sepintas Gerakan Mahasiswa Islam Di Indonesia dan Karakternya’

‘Sepintas Gerakan Mahasiswa Islam Di Indonesia dan Karakternya’

Di Indonesia terdapat lima organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Kesemuanya menarik untuk dikaji karena sama-sama membawa label Islam sebagai identitas organisasinya, namun memiliki corak wacana dan strategi perjuangan yang khas. Berikut sekilas perjalanan dari ormas mahasiswa Islam tersebut:
HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Lafran Pane dan kawan-kawan merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpecah-pecah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik serta jurang kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah. Dalam perjalanannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Hampir di sepanjang pemerintahan Orde Baru selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet.
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah pergerakan angkatan mudanya dari kalangan mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).. Di jalur intelektual PMII banyak mengembangkan dan mengapresiasikan gagasan-gagasan baru, misalnya mengenai hak asasi manusia, gender, demokrasi dan lingkungan hidup. PMII, ormas mahasiswa Islam ini lebih mengembangkan teologi yang lebih radikal bila dipandang oleh sebagian besar umat Islam pada umumnya. Pada mulanya PMII memakai doktrin teologi Aswaja (ahlussunnah wal jama’ah) sebagi doktrin resmi yang dipakai NU dan masyarakat Islam Indonesia pada umumnya. Doktrin teologi Aswaja lebih banyak berbicara mengenai takdir manusia yang telah ditentukan Allah, dan kedudukan manusia sebagai makhluk. Namun akhir-akhir ini tradisi kritik yang berkembang di PMII tidak hanya menggugat kemapanan (status quo) struktur sosial, ekonomi dan politik yang ada, tapi termasuk doktrin teologi Aswaja. PMII dengan berani menggulirkan perlunya pembacaan kembali konsep Aswaja
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964. Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah sifat dan gerakan IMM sama dengan Muhammadiyah yakni sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Ide dasar gerakan IMM adalah; Pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan IMM ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah. Kedua, Value, ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Ketiga, Courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat. IMM tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh kultur yang ada di Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, tentu saja tidak bisa lepas dari agama sebagai landasan teologis dalam berpikir, bertindak dan berinovasi. Aspek teologis ini penting karena dari sinilah Muhammadiyah melancarkan purifikasi agama atau pemurnian tauhid dari segala bentuk praktek keagamaan yang berbau takhayyul, bid’ah dan khurafat. Dengan langkah ini sebenarnya Muhammadiyah ingin melangkah ke arah praksis, yaitu memperbaharui pola pikir umat yang lebih “membumi”, tidak mistis dan metafisis
Setelah beberapa tahun HMI MPO lebih banyak melakukan aktifitas gerakannya secara sembunyi-sembunyi, pada tahun 1990-an ketika pemerintah mulai menjalin hubungan baik dengan Islam, HMI MPO mulai nampak kembali kepermukaan. Di beberapa daerah yang merupakan basis HMI MPO seperti Yogyakarta, Bandung, Ujungpandang dan Purwokerto kader-kader mereka cenderung radikal dan lebih militan. Pada kenyataannya represi negara justeru membuat HMI MPO menjadi lebih matang dan kuat. HMI MPO sendiri sedikit mengalami pergeseran, jika pada awalnya gerakan mereka cenderung fundamentalis dan eksklusif. Pada akhirnya mereka mulai terbuka dengan memperluas cakrawala pengetahuan sehingga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. HMI Dipo telah menjadikan pemikiran neo-modernisme ini sebagai referensi utama bagi pemahaman teologinya. Lewat pemikiran-pemikiran Cak Nur yang juga mantan ketua PB HMI inilah konsep Islam Keindonesiaan ditawarkan oleh kader-kader HMI.
KAMMI terbentuk dalam rangkaian acara FS LDK (Forum Sillaturahmi Lembaga Da’wah Kampus) Nasional X di Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 25-29 Maret 1998. Ada dua alasan terbentuknya KAMMI, pertama, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan. Kedua, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah. KAMMI yang dilahirkan oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus memiliki corak pergerakan yang khas. Jaringan mereka sangat luas dan telah ada hampir diseluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Tradisi pendekatan wacana yang berkembang di KAMMI adalah upaya pencarian keabsahannya gerakannya melalui teks-teks suci. Hampir di setiap kali muncul wacana pemikiran KAMMI akan selalu diikuti sumber pembenarannya dari teks Al Qur’an dan Hadits. Pembacaan terhadap teks-teks suci tersebut telah memberikan semangat juang (ghiroh) tersendiri bagi KAMMI. Pada akhirnya, kontekstualisasi teks dengan realitas sosial sekarang mendorong KAMMI berkiprah lebih banyak di bidang pelayanan sosial, pendidikan politik, dan advokasi umat.
Target : Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pergerakan organisasi islam di Indonesia dan karakter yang dimiliki oleh masing- masing gerakan serta mampu membedakannya sesuai cirri yang ada pada masing-masing gerakan.
Selengkapnya...

“Kurikulum Sekolah” Suatu bentuk paksaan atau arahan??

Abstract

“Kurikulum Sekolah” Suatu bentuk paksaan atau arahan??
Pendidikan dalam arti luas merupakan “Life is Education and Education is life” berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan. Segala pengalaman sepanjang hidup manusia memberikan pengaruh pendidikan baginya. Dan dalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.
Dari pengertian yang luas dan sempit mengenai pendidikan di atas tidak mungkin kita lepas dari manusia, karena manusialah yang mengalami dan hidup untuk proses pendidikan. Dalam pengertian yang sempit selanjutnya manusia lebih dibentuk dan dikonsep oleh sebuah kurikulum kaitannya dengan pendidikan yang formal yang selama ini disebut sekolah. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Asumsinya bahwa individu yang mengikuti proses dalam pendidikan formal (baca:sekolah) dipaksa dan dikonsep seperti yang telah direncanakan dalam kurikulum. Kurikulum sekolah ini merupakan bentuk pemaksaan dan penekanan terhadap peserta didik (baca: manusia) karena kurikulum selau bersifat mengharuskan dan menuntut peserta didik untuk bisa melakukan apa yang didinginkan oleh sekolah atau lembaga pendidikan formal. Dan dalam sistem persekolahan sendiri mengandung lembaga yang bersifat kompetitif. Hal ini dapat dirasakan peserta didik yang merasa gagal di dalam pelaksanaan ujian di sekolahan. Peserta didik cenderung gelisah dan merasa cemas ketika akan menghadapi ujian sekolah. Sistem kompetisi semacam ini tidak dapat sepenuhnya membangun karakter peserta didik sehingga hakikat tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia pun akan sulit tercapai.
Uniforming terhadap kompetensi peserta didik juga merupakan salah satu unsur yang terkandung dalam konstruksi kurikulum sekolah. Dalam teori perkembangan mengatakan bahwa manusia itu unik dan beragam sehingga muncul individual deferences sehingga antara individu satu dengan yang lain belum tentu memiliki kompetensi yang sama. Kaitannya dengan hal ini adalah bahwa dalam pendidikan membutuhkan kurikulum yang lebih memuat konsep atau sistem pembelajaran yang koopeartif (cooperative learning) di mana setiap individu yang berbeda-beda dalam suatu kelompok belajar dapat saling melengkapi dan mempunyai motivasi lebih dari peergroupnya sehingga mereka merasa terdukung oleh lingkungan, merasa dihargai dan menimimalisir perasaan gelisah dan kecemasan pada diri peserta didik tersebut dalam proses belajar mengajar.
Pencapaian rencana pembelajaran yang telah terkonstruksi dalam kurikulum diukur dengan konsep pembandingan antara individu satu dengan yang lain yang menjadikan satu individu terukur secara sistem bukan terukur karna kemampuan yang dimilikinya. Dari permasalahan diatas memerlukan rekonstruksi kurikulum sekolah yang lebih flexible dan dapat diterapkan di sekolah ataupun lembaga pendidikan formal. Sehingga sekolah benar-benar memanusiakan manusia tidak seperti teori perlakuan yang identik dengan asumsi bahwa manusia bersifat mekanik. (Immawati Ummu)
Selengkapnya...

Tokoh yang mendasari pengembangan perilaku maupun ekspresi berbagai emosi

Tokoh yang mendasari pengembangan perilaku maupun ekspresi berbagai emosi

Terdapat dasar-dasar teori dari para ahli yang menggambarkan ekspresi emosi yaitu

Hurlock, ahli ini melihat emosi dari perkembangan masa bayi hal ini macamnya adalah :
Masa bayi :
a. Kemarahan
Perasaan nya terekspresi melalui menjerit, meronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, memukul atau menendag apa saja yang ada didekatnya. Hingga perkembangannya bayi dapat melonjat maupun berguling- guling..
b. Ketakutan
Ekspresi yang timbul dengan cara merengek, menangis dan menahan nafas.
c. Rasa ingin tahu
ekspresi wajah yang menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah, kemudian bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memengang, membolak – balik, melempar atau memasukkannya kemulutnya.
d. Kegembiraan
Ekspresi yang timbul bila gembira ialah berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak dengan gembira dan semua gerak tubuh menjadi makin intensif.
e. Afeksi
Ekspresi bayi terhadap sesuatu yang ia cintai adalah menepuk dan mencium barang atau orang yang dicintai.
Masa Awal anak :
a. Amarah
Ekspresinya dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat – lompat atau memukul.
b. Takut
Ekspresi terhadap rasa takut adalah panik, kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, bersembunyi dan menghindari situasi yang menakutkan.
C. Cemburu
Kalau cemburu Ekspresinya dengan berperilaku regresi seperti mengompol, mencari perhatian, nakal
d. Ingin tahu
Ekspresi dengan rasa ingin tahu yaitu dengan bertanya.
e. Iri hati
Anak akan mengambil barang yang membuat iri hati atau bertanya untuk meminta barang itu.
f. Gembira
Ekspresi gembira yang timbul dengan tersenyum ,tertawa,bertepuk tangan, melompat – lompat, memeluk atau orang yang membuatnya bahagia.
g. Sedih
Ekspresi yang ditimbulkan menangis maupun kurangnya minat terhadp kegiatan normal.
h. Kasih sayang
Ekspresi anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan
mencium objek kasih sayangnya.
Saat remaja masalah timbul sehingga semakin mengubah sikapnya.

Menurut Wundt ada tiga pasang kutub emosi, yaitu :
1. Senang – tak senang, 2. Tegang – tak tegang. 3. Semangat – tenang
Perubahan-perubahan pada tubuh pada saat terjadi emosi Terutama pada emosi yang kuat, seringkali terjadi juga perubahan-perubahan pada tubuh kita antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona.
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah.
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut.
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa.
5. Pupil mata : membesar bila sakit atau marah.
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang.
7. Bulu roma : berdiri kalau takut.
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang.
9. Otot : Ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot
menegang atau tremor.
10. Komposisi darah : Komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan
emosional
karena kelenjar – kelenjar lebih aktif
Selengkapnya...